S I S K (Cerita) >> Tokek Budek **Just Bryan's | Blog Putih Biru . .: S I S K (Cerita) >> Tokek Budek
I'm reading: S I S K (Cerita) >> Tokek BudekTweet this!

Cerita ini adalah cerita ke-3 yang aku pilih dari buku setengah isi setengah kosong setelah cerita tentang kupu-kupu dan siapa yang mendorong kita
Peringatan hari kemerdekaan di Negeri Binatang berlangsung meriah dengan acara-acara perlombaan. Salah satu acara yang paling menarik, yang diletakkan di puncak acara adalah Panjat Pinang untuk para Tokek. Batang Pinang dilumuri getah salah satu pohon yang licin. Bedanya dari perlombaan Panjat Pinang biasa, pada perlombaan tidak memperebutkan sesuatu di atas dan tidak pula kerjasama. Perlombaannya sederhana, yakni siapa yang duluan sampai ke puncak pohon pinang dialah yang menjadi pemenangnya. Aturannya sederhana, jika ada tokek yang sudah jatuh masih diberi kesempatan tiga kali untuk tetap naik. Namun, jika sudah ada tokek yang sampai duluan si puncak, maka pertandingan berakhir dengan tokek yang terlebih dahulu sampai di puncak sebagai pemenang pertamanya.

Total peserta tokek yang ikut sebanyak 25 ekor yang datang sari berbagai wilayah di negeri binatang. Selain berpartisipasi memperingati hari kemerdekaan, mereka tampaknya juga tergiur dengan hadiah rumah Tokek yang ditawarkan. Di samping tentunya hadiah-hadiah lain yang menggiurkan.

Ketika juri meniup peluit tanda perlombaan dimulai, maka ke 25 ekor langsung berebut naik. Baru beberapa menit, sudah beberapa tokek yang tergelincir jatuh. Penonton pun semakin histeris melihat perjuangan tokek yang sangat bersusah payah mencapai puncak. Ada yang memotivasi, namun lebih banyak yang mencerca serta sok mengatur. Dalam hal ini mungkin penonton sudah jauh lebih hebat dari pemain itu sendiri.

Beberapa waktu telah berlalu, para tokek yang tereliminasi pun sudah banyak karena telah jatuh bangun lebih dari tiga kali. Tinggallah enam tokek yang sedang berjuang menuju puncak. Anehnya, penonton bukan semakin memotivasi melainkan memberitahukan bahwa adalah tidak mungkin untuk mencapai puncak yang demikian tinggi sementara badan tokek kecil. Suara penonton pun mulai berubah.”Sudahlah, tidak mungkin sampai, turun saja!” Demikian penonton bersorak.

Yang lain mengatakan,”Jangan gara-gara iming-iming rumah kau korbankan sesuatu yang mungkin berguna untuk yang lain.”

Bahkan, tokek senior yang tidak ikut bermain malah berkomentar,”Zaman saya dulu saja tidak se-“ngotot” ini, yang penting jalan saja seperti rutin.”

Sementara itu para petinggi Negeri Binatang mulai ikut bersuara,”Sudahlah tokek, sengaja kami buat perlombaan ini haya untuk senang-senang dan memang dirancang agak sulit. Jadi.turunlah!Tidak mungkin kamu bias sampai puncak!”

Mendengar teriakan-teriakan yan demikian, beberapa tokek mulai jatuh motivasinya, daya juang mereka semakin melorot, dan akhirnya mulai tereliminasi satu demi satu. Melihat kondisi demikian, penonton semakin lantang berteriak bahwa tidak mungkin ada tokek yang dapat mencapai puncak. Namun demikian, perlombaan belum selesai. Dari lima tokek yang sudah tereliminasi, tinggal satu tokek yang terus merangkak naik, perlahan, perlahan namun pasti. Melihat hal ini penonton kembali bersorak dan mencemooh sang tokek, bahwa tidak mungkin mencapai puncak itu.
Bahkan seekor binatang yang kaya raya mengatakan,Hei tokek, turunlah! Kalau demi rumah kau relah berkorban untuk sesuatu yang tidak mungkin, kau pakailah rumahku dan turunlah, sebab semakin tinggi kau merangkak semakin besar pula risikomu untuk jatuh dan itu sangat menyakitkan!”

Namun, kata-kata si binatang kaya raya ini pun tidak di gubris oleh san tokek. Mendekati tengah hari semua penonton mulai terdiam. Mereka melihat tokek dengan konstan merangkak dan akhirnya…mencapai puncak!

Gegap gempita dan sorak-sorai penonton pun meledak melihat sesuatu yan tidak mungkin menjadi mungkin. Bahkan, rekan-rekannya yang sudah tereliminasi terlebih dahulu ikut menangis terharu melihat rekannya yang bias mencapai puncak. Setelah diturunkan dengan tali khusus, beberapa penonton dan petinggi Negeri Binatang berusaha mencari tahu apa yang menyebabkan sang tokek bias mencapai puncak dan meraih hadiah rumah yang layak. Betapa kagetnya mereka, setelah diperiksa ternyata sang tokek pemenang itu ternyata tidak bias mendengar alias tuli bin budek.



hikmah dari cerita di atas yang aku dapat dari pelatihan dengan cerita yang sama hanya bedanya di pelatihan itu bukan tokek tapi katak kecil..

Jangan sekali kali mendengar kata orang lain yang mempunyai kecenderungan negatif ataupun pesimis...
karena mereka akan mengambil sebagian besar mimpi kita dan menjauhkannya dari kita.
Selalulah ingat kata-kata bertuah yang ada.
Karena segala sesuatu yang kita dengar dan kita baca akan mempengaruhi perilaku kita!
Karena itu:

Selalu tetap.... POSITIVE!

Dan yang terpenting:
Bersikap TULI jika ada orang mengatakan bahwa KITA tidak bisa mencapai cita-cita kita!
Selalu berpikir:

I can do this!



Silahkan Di Baca Juga



7 comments:

Kampanye Damai Pemilu IndonesiA 2009 said...

biar ndak budek, mesti di tusuk pakai linggis
ato tiang listrik wekekekeke

mantan kyai said...

aku suka kalo main tusuk2an ...

Jiewa said...

eh.. ada lho buku yg judulnya "Be Negative", maksudnya.. kan org2 sekarang sudah negatif, kalo dilawan dgn positif.. ya hasilnya akan negatif
Ingat rumus matematika : "-" dikali "+" = "-".

Tapi kalo dilawan dgn negatif, makan akan jd positif. "-" dikali "-" = "+"

Haha,.. bingung kan :P

annosmile said...

tetep semangat bro

Mr.Mocca said...

yup, bener banget...

kuncinya FOKUS pada tujuan kita dan jangan menghiraukan opini mayoritas yang bersifat negatif...

coz yang bisa merealisasikan mimpi dan cita2 kita adalah diri kita sendiri dengan bimbingan Tuhan serta dukungan positif orang2 di sekitar kita..

nice post ~ ~

Ian said...

wah jadi tau nih, ternyata kamu suka bikin cerita juga Bry ;))

bagus dah storynya

ama satu tambahan lagi,
orang gak boleh bilang kamu gak bisa!
tapi kita juga gak boleh bilang gak bisa!
ingat kata" yang kita ucapin secara gak langsung ngehipnotis kita sendiri ;)

Just Bryan said...

@Eros&xkh : Silahkan main tusuk2an sendiri
@Jiewa : biasa*Padahal bingung*
@Annosmile & Mr.Mocca : Siip..Thnks
@Ian : Aku gak bikin, tu cerita si buku setengah isi setengah kosong..

Silahkan Berkomentar

Saya sangat menghargai apapun bentuk komentarnya selama bukan SPAM dan tidak menyinggung SARA..hehehe
Bagi yang meninggalkan jejak disini mari tukeran link..

Blogilicious de Surabaya